Giztech.id – Putra dari shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, menyampaikan pernyataan terbuka setelah kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Tokoh yang telah lama bermukim di Los Angeles, Amerika Serikat, itu menyebut kematian Khamenei sebagai momentum besar bagi masa depan Iran.
Melalui akun resminya di platform X, Pahlavi menilai berakhirnya hidup Khamenei sebagai tanda runtuhnya fondasi Republik Islam yang berdiri sejak revolusi 1979.
Reaksi Reza Pahlavi: “Era Republik Islam Telah Usai”
Sebut Rezim Kehilangan Legitimasi
Dalam pernyataannya, Pahlavi menggambarkan Khamenei sebagai simbol penindasan dan menyatakan bahwa sistem pemerintahan yang dipimpinnya tidak lagi memiliki legitimasi. Ia juga meyakini setiap upaya untuk menunjuk pengganti Khamenei akan menemui kegagalan karena dianggap masih terikat dengan struktur lama.
Menurutnya, perubahan besar di Iran kini hanya tinggal menunggu waktu.
Seruan kepada Aparat Keamanan
Pahlavi turut menyampaikan pesan kepada militer, aparat keamanan, dan kepolisian Iran. Ia meminta mereka tidak lagi mendukung pemerintahan saat ini dan sebaliknya berpihak pada rakyat demi memastikan transisi yang damai menuju tatanan baru.
Ia menekankan pentingnya persatuan nasional untuk menciptakan Iran yang bebas dan sejahtera.
Ajakan Turun ke Jalan dan Momentum Perubahan
“Waktu Aksi Sudah Dekat”
Dalam unggahannya, Pahlavi mengajak masyarakat Iran untuk bersiap menghadapi fase penting dalam sejarah bangsa mereka. Ia menyebut momen ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan solidaritas melalui aksi yang besar dan tegas.
Seruan tersebut memicu beragam respons di kalangan diaspora Iran maupun warga di dalam negeri.
Latar Belakang Reza Pahlavi dan Dinasti yang Tumbang
Putra Shah Terakhir Iran
Reza Pahlavi adalah anak dari Mohammad Reza Pahlavi, penguasa monarki Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Sejak saat itu, ia hidup di pengasingan dan aktif menyuarakan perubahan sistem politik di Iran.
Revolusi tersebut dipimpin oleh Ruhollah Khomeini, yang kemudian mendirikan Republik Islam Iran.
Sejarah Kudeta 1953 dan Ketegangan dengan Barat
Sebelum revolusi, monarki Iran sempat diperkuat kembali melalui peristiwa kudeta 1953 yang melibatkan badan intelijen asing seperti CIA dan MI6. Kudeta tersebut menggulingkan Perdana Menteri terpilih, Mohammad Mosaddegh, setelah upayanya menasionalisasi industri minyak.
Peristiwa itu menjadi salah satu titik balik dalam hubungan Iran dengan negara-negara Barat.
Jejak Kepemimpinan Ali Khamenei
Dari Presiden hingga Pemimpin Tertinggi
Ali Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Khomeini. Sebelumnya, ia menjabat sebagai presiden pada era perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Konflik panjang tersebut, ditambah dukungan Barat kepada Irak di bawah Saddam Hussein, membentuk pandangan keras Khamenei terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Sebagai pemimpin tertinggi, ia memperkuat jaringan militer dan paramiliter Iran serta memperluas pengaruh regional negara tersebut.
Masa Depan Politik Iran Pasca-Khamenei
Kematian Khamenei membuka babak baru dalam dinamika politik Iran. Seruan Reza Pahlavi menambah dimensi baru dalam wacana perubahan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan internal dan eksternal.
Situasi di Iran kini menjadi sorotan dunia, dengan berbagai pihak menunggu bagaimana proses transisi kepemimpinan akan berlangsung serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.










