Giztech.id – Kasus dugaan kekerasan yang melibatkan seorang anggota TNI terhadap pengemudi taksi online terjadi di Jalan Raya Puspiptek, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan. Peristiwa ini mencuat setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial.
Komandan Kodim 0510/Tigaraksa, Yudho Setyono, membenarkan bahwa prajurit berinisial Peltu A merupakan anggota aktif yang bertugas di satuannya. Ia menyatakan bahwa yang bersangkutan memang terlibat dalam insiden tersebut.
Menurut penjelasannya, setelah adanya laporan terkait dugaan penganiayaan itu, Peltu A langsung diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Ditangani Polisi Militer
Peltu A Sudah Diamankan POM
Yudho memastikan bahwa proses hukum terhadap anggotanya kini berada di tangan Polisi Militer.
“Saat ini sudah dalam penanganan POM,” ujarnya di Tangerang pada 3 Maret 2026.
Langkah ini diambil guna memastikan pemeriksaan berjalan sesuai prosedur hukum militer yang berlaku.
Laporan Masuk ke Polres Tangerang Selatan
Sementara itu, pihak Polres Tangerang Selatan juga menerima laporan atas kejadian tersebut pada 2 Maret 2026.
Kasat Reskrim Polres Tangsel, Wira Graha Setiawan, menjelaskan bahwa pihaknya telah memeriksa korban dan pelapor untuk mendalami peristiwa tersebut. Sejumlah barang bukti, termasuk video yang beredar, turut dianalisis dalam proses penyelidikan.
Bermula dari Senggolan Kendaraan
Berdasarkan keterangan awal, insiden dipicu oleh gesekan antara dua kendaraan yang kemudian memancing adu mulut. Situasi memanas ketika terduga pelaku menghampiri pengemudi taksi online dan diduga melakukan tindakan kekerasan.
Dalam video yang viral, korban terlihat dibanting ke jalan dalam kondisi tangan terborgol. Setelah dilakukan koordinasi, terduga pelaku diserahkan kepada satuan Polisi Militer, yakni Denpom Jaya, untuk penanganan lebih lanjut.
Proses Hukum Berjalan
Kasus ini kini ditangani oleh aparat berwenang untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara transparan. Pemeriksaan terhadap prajurit TNI tersebut masih berlangsung, sementara kepolisian dan Polisi Militer terus berkoordinasi dalam penanganannya.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik, terutama karena melibatkan aparat dan terjadi di ruang publik dengan dokumentasi yang tersebar luas di media sosial.










