
Giztech.id – Suasana duka menyelimuti kawasan Tambun saat jenazah Nur Ainia Eka Rahmadhyna, korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, akhirnya tiba di rumah duka pada Selasa malam.
Ambulans yang membawa jenazah dari RS Polri Kramat Jati tiba sekitar pukul 19.33 WIB. Kehadiran kendaraan tersebut langsung memicu luapan emosi keluarga dan warga yang telah menunggu sejak sore.

Tangis pun pecah seketika ketika peti jenazah diturunkan. Kerabat dan tetangga yang memadati halaman rumah tak kuasa menahan kesedihan atas kepergian almarhumah.
Reaksi Keluarga yang Terpukul
Adik Korban Histeris Minta Peti Dibuka
Di tengah suasana pilu, adik korban terlihat paling terpukul. Ia menangis histeris sambil memohon agar peti jenazah dibuka, berharap dapat melihat wajah kakaknya untuk terakhir kali.
Dengan tangan gemetar, ia berusaha mengetuk peti tersebut, seakan menolak kenyataan pahit yang harus diterima. Namun, keluarga lainnya berusaha menenangkan dan memeluknya agar tetap kuat menghadapi situasi tersebut.
Kenangan Sosok Nur Ainia di Mata Keluarga
Anak Penurut dan Sederhana
Ayah korban, Hary Marwata, menggambarkan putrinya sebagai sosok yang patuh dan tidak banyak tingkah. Ia dikenal sebagai pribadi sederhana yang dekat dengan keluarga.
Kenangan tentang sikapnya yang baik kini menjadi penguat bagi keluarga di tengah rasa kehilangan yang mendalam.
Prosesi di Rumah Duka
Doa Mengiringi Kepergian
Setelah tiba, peti jenazah dibawa masuk ke dalam rumah dan ditempatkan di ruang duka. Suasana perlahan berubah dari tangisan menjadi lantunan doa yang dipanjatkan oleh keluarga dan para pelayat.
Momen tersebut menjadi simbol perpisahan terakhir bagi keluarga yang harus merelakan kepergian orang tercinta.
Duka Mendalam yang Ditinggalkan
Kehilangan yang Membekas
Malam itu, lingkungan tempat tinggal korban menjadi saksi betapa dalamnya rasa kehilangan yang dirasakan keluarga. Kepergian Nur Ainia bukan hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan orang-orang terdekatnya.
Peristiwa ini kembali mengingatkan betapa satu kejadian dapat mengubah hidup banyak orang dalam sekejap, menyisakan duka yang panjang bagi mereka yang ditinggalkan.








