Giztech.id – Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) yang menjadi kuasa hukum Andrie Yunus mengungkap adanya 16 individu yang diduga terlibat dalam aksi penyiraman air keras terhadap kliennya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ravio Putra dalam konferensi pers di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa identifikasi para sosok ini didasarkan pada analisis rekaman CCTV serta penelusuran di sejumlah lokasi kejadian.
Dugaan Keterlibatan Beragam Peran di Lapangan
Eksekutor hingga Pengintai
Dari hasil investigasi, TAUD mengelompokkan para terduga berdasarkan peran masing-masing dalam aksi tersebut. Beberapa di antaranya diduga sebagai pelaku utama, sementara lainnya berfungsi sebagai pengintai, pemantau, hingga pengatur situasi.
Salah satu sosok yang disebut adalah individu berinisial MAK yang diyakini sebagai eksekutor penyiraman. Selain itu, terdapat pula nama Budi Haryanto Widhi Cahyono yang disebut sebagai perwira militer.
Modus Penyamaran dan Pengawasan
Tim investigasi juga menemukan indikasi penggunaan penyamaran oleh beberapa individu, seperti mengenakan atribut ojek online atau pakaian tertentu untuk menghindari kecurigaan.
Sejumlah sosok lainnya diberi julukan berdasarkan ciri fisik atau pakaian yang terekam kamera, seperti “Abang Gojek”, “Kumis Bleki”, hingga “Buncit Oranye”.
Lokasi Operasi Terpantau di Sejumlah Titik
Aktivitas Terpantau di Area Strategis Jakarta
Menurut TAUD, para terduga pelaku terpantau beroperasi di berbagai titik di wilayah Jakarta, termasuk kawasan Jalan Diponegoro, Taman Diponegoro, hingga sekitar Cikini.
Pergerakan mereka disebut tidak acak, melainkan terstruktur dengan pembagian tugas yang jelas, mulai dari pemetaan lokasi hingga pengawasan sebelum aksi dilakukan.
Koordinasi Antar Pelaku Diduga Terorganisir
Beberapa individu diduga berperan sebagai koordinator lapangan yang mengatur jalannya operasi. Hal ini mengindikasikan adanya koordinasi yang rapi antar pihak yang terlibat.
Penyelidikan Diharapkan Lebih Mendalam
Dorongan untuk Ungkap Aktor Utama
Pengungkapan 16 sosok ini memperkuat dugaan bahwa penyerangan terhadap Andrie Yunus tidak dilakukan secara spontan, melainkan melibatkan banyak pihak dengan peran berbeda.
TAUD mendesak aparat penegak hukum untuk tidak hanya berhenti pada pelaku yang telah ditetapkan, tetapi juga menelusuri aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.










